Bajol Punk

Pengecut yang Bingung

Berlari jauh
Hilang
Lalu kembali

Luapkan saja!
Kata Hati

Bibir terpaku
Ego mendekat
Berlari menetap

Cemas bergemuruh
Pikiran melayang
Merangkai diam

Takut mendekap
Malu mendekat
Menyerang menetap

Jangan ungkapkan!
Percuma!
Balas Otak

Lelah kalah
Keluh jenuh
Menjauh

Berlari pergi
Hilang
Tidak kembali

25/12/19

Buku Doa

Buku dengan cover hitam itu ia peluk erat
Sekelilingnya ramai bagai lomba menulis keinginan
Jangan sampai ada ruang kosong semua harus penuh!

Pena berlenggak lenggok diatas kertas
Semua hal tidak lupa dipinta 
Jangan sampai ketinggalan!

Bocah kecil itu menulis sebentar,
Lalu berjalan menuju ke telaga buku harapan itu pulang
Ia berhenti sejenak melihat kesekelilingnya

Ada yang sibuk menulis dalam buku tebal 100 halaman
Penuh, tidak tersisa sedikitpun ruang putih
Kertas dan pena becengkrama, bising!

Ada yang santai-santai saja, tidak menulis apapun
Menyobek bukunya lalu melipatnya jadi pesawat terbang
Atau kapal-kapalan atau rumah-rumahan
Ia tersenyum

Ia buka bukunya
Membaca tulisannya sendiri
Tertulis 3 kata 
'Terimakasih untuk semua'
Lalu dengan mantap ia tutup bukunya
Dilempar ke dalam telaga.
Ia tersenyum lega

Mereka juga

2/3/20

Old

How fast the time flies
The tears slowly down her eyes
How can the time go
Even when She running so slow?
Sometimes She wonder what's beyond
Silently counting one minute more
Constantly asking her self what's going on

How many hours have passed away?
Struggle, trying to reach the sky
Shout out that life is hers, and live it her way
How many years are passed by?
The world has grown cold,
The city; the crowd is fading and moving on

She is blind,
Can't describe how tomorrow will begin
She know, there's a thing she can't order
The time still go, and get her older

1/4/20

Menyerah

Menikmati sunyi
Menjauh, meringkuk di pojokan
Menarik diri dari kerumunan
Mencari tempat teraman

Memeluk luka
Kakinya terseok-seok berjalan
Terjerembab guram
Menghitung beban

Berkawan sepi
Tertunduk meratapi
Sembunyi dibalik gelak tawa
Menggores luka diatas luka

Berjuang melepas gundah
Meluapkan asa, menebas amarah
Gagal mengejek dirinya

Air mata mengalir deras, Ia kembali
Menengadahkan tangan, berdoa
Ia ingin hilang dari bumi sekejap saja

Menyerah..
Akhirnya dia menyerah padaNya

Cantik

Berbagai cara tradisional sampai bedak-bedak yang dijual dipasaran pun tidak mampu membuat wajah itik berubah kinclong, mulus, dan bersinar bagai jidatnya Suzy. Yha.. tidak usah ndakik-ndakik lah! wajah ini bisa glowing kayak keteknya Pevita Pearce saja merupakan suatu pencapaian besar dalam hidup. Waduh Lebay.

Setiap bulan puan-puan menyisihkan sebagian gaji untuk menyumbang modal pada industri kecantikan sekaligus mewujudkan cita-cita mulia : Mati dalam keadaan glowing.


Tidak bisa dipungkiri, kadang diri ini insekyur melihat perempuan dengan wajah mulus dan kinclong. Sedangkan wajah ini berjerawat, pori-pori besar, dan flek hitam. Simple tapi begitu menjengkelkan! Apalagi kalau setiap bulan menuju menstruasi jerawat selalu muncul satu atau dua di wajah. Hm, aku kira ini masalah semua orang, tidak pandang jenis kelamin. Terutama bagi perempuan yang dituntut selalu cantik dengan wajah mulus dan glowing.

Bagi tipe wajah yang begitu selektif dan belagu. Air wudhu pun tidak mempan mengatasi masalah sesederhana perjerawatan, flek-flek hitam dan pori-pori besar. Ah, ndak apa, 'kan sudah ikhtiar, sekarang waktunya tawakkal. Seperti kata motivator, "Usaha tidak mungkin mengkhianati hasil." ya kan?; adalah kalimat penyemangat yang ampuh untuk diri sendiri.

Aku mencoba untuk selalu berpikir positif. Menimbang-nimbang kemungkinan penyebab wajah ini setia dengan keburukrupaan. Bisa saja kejelekan ini tetap melekat karena tidak adanya cukup modal untuk perawatan ke dokter kecantikan atau sekadar beli paket SK-II. Oleh karena itu, kecantikan yang sebenarnya tidak terlihat, tertutup oleh polusi dan diprovokasi oleh beban hidup lainnya yang semakin menampakkan kekusaman pada kulit wajah. Gitu! HAHAHA

Kadang kalau lagi nganggur, aku jalan-jalan di sekitar rumah lalu cari tempat duduk yang sekiranya banyak orang berlalu lalang. Duduk-duduk sendiri memperhatikan orang-orang sambil makan kacang, mencari orang yang lebih buruk rupa dari diri sendiri dan membentuk parameter untuk selalu bersyukur. 'kan bngst~

Setelah aku perhatikan baik-baik, ternyata cantik itu bermacam-macam. Gak bisa kalau standar cantik itu hanya yang di eluk-elukan seperti yang ada di iklan Teve. Putih, mulus, langsing. "Jangan ketipu cuy, itu budaya kapitalistik biar kamu selalu beli produknya.", kata mbak Rosida dengan sinis sambil memoles handbody di kakinya. *teman seperburikan*

Kalau cantik hanya yang berkulit putih. Gimana orang yang terlahir berkulit hitam?
Kalau cantik hanya yang berambut lurus. Gimana orang yang terlahir berambut keriwul?
Kalau cantik hanya yang berbadan seksih. Gimana orang yang perawakannya memang krempeng atau gembrot sejak lahir?

NASIB?!

Beberapa waktu lalu Ibuku hampir nangis karena kulit wajahnya yang mengelupas setelah beberapa kali memakai bedak penghilang flek hitam yang disarankan oleh penjual kosmetik di pasar. Maklum, gak punya cukup cuan untuk perawatan ke dokter kecantikan.

Kalau kata Eka Kurniawan, "Cantik itu luka". Banyak orang yang melakukan diet ketat agar punya  lekukan tubuh seperti gitar spanyol. Orang-orang berduit melakukan filler bibir biar bibirnya nampak monyong seksi. Memasang Eyelash extensions biar bulu matanya makin lebat dan lentik. Yang paling ekstrem sampai oplas agar memiliki wajah rupawan. Aku jadi penasaran, siapa sih yang menciptakan standar kecantikan ini?!

Ya, meski sejatinya adalah naluriah perempuan ingin terlihat cantik. Tapi, apakah cantik itu hanya perihal fisik dan 'itu-itu' saja?--pertanyaan dari perempuan yang tidak masuk dalam standar cantik yang ada dan gak punya modal seperti kita. eh, saya. hehe--

"Tuh, tetangga depan rumahku, jangankan untuk beli krim siang dan malam. Untuk memenuhi haknya sebagai bangsa yang berpendidikan saja tidak mampu, wong buat makan saja syukur-syukur..", katanya lagi, kali ini memoles conditioner tanpa bilas pada ramburnya yang hampir kering.

"Tiap sabtu malam minggu cukup memakai bedak viva dan sedikit pupur warna hijau yang jika dipakai dibibir berubah warna jadi merah ke oren-orenan lalu berkencan dengan setumpuk baju yang dicuci secara manual alias ngucek dengan tangan. Namun diwajahnya tidak ada garis-garis kutukan pada hidup. Begitu asri dan bahagia..", tambahnya.

"Legowo. Menerima semua yang ada di dirinya. Menerima hidupnya.. Itu cantik, menurutku. Lha, cantik menurutmu piye?", tanyanya ke aku.

Aku bingung kudu jawab apa, "Lha mbak terus gimana nasibku yang burik, bokek, pekok, dan hobi ngeluh ini. Apakah aku tidak ada cantik-cantiknya sama sekali?", tanyaku balik.

"Nggak, kamu totalitas. Itu juga cantik", kata mbak Rosida sambil menyisir rambutnya yang lurus dan panjang. "...cantik dalam hal keburukrupaan", dia nyengir dan mengacungkan jempol tangan kirinya tepat di depan wajahku.

Wallahu'alam.

Kenapa bikin Finsta?

Akhir-akhir ini saya mulai bertanya-tanya hal yang gak penting tapi penting. Gak penting karena mungkin ini terdengar sangat remeh, lumrah dan sederhana.

Tapi pertanyaan ini bisa jadi penting untuk ditanyakan jika hal ini memberikan dampak yang cukup signifikan pada mental, pola pikir dan perilaku.

1. Kenapa sih saya--dan orang-orang yang saya kenal yang memiliki akun fake--bikin finsta alias fake account instagram? Alasannya apa dan tujuannya untuk apa? Lalu,
2. Apakah ada dampak dari finsta bagi pemiliknya?

Disini saya menjawab pertanyaan yang saya ajukan sendiri itu dari pengalaman saya juga teman-teman. Dituliskan di blog karena lebih mudah direvisi daripada ditulis manual.

Pertama kita bahas dulu, apa itu finsta?

Masa kamu tidak tau finsta itu apa? halah ndeso iki! Tapi sejujurnya saya baru tau istilah keren itu barusan saat saya menulis ini. awalnya sih saya menyebutnya "akun ke dua" Jiahahaha.

Padahal akun finsta saya adalah akun instagram pertama yang saya buat dan menjadi akun primer dalam dunia perinstagraman. Tapi saya menyebutnya itu akun kedua hanya karena tidak menggunakan nama asli. Ya, 'kan terbukti nggobloki?! HAHAHA

Finsta itu akronim dari Fake Instagram. Saya cari-cari nih di Mbah gugel, katanya...
Gampangnya Finsta itu akronim bahasa Inggris dari fake instagram yang artinya akun palsu/akun bodong/akun KW/akun rahasia.
Ok, langsung menuju ke jawaban...

1. Kenapa bikin fake account instagram? Alasannya apa dan tujuannya untuk apa?

Persepsi saya :
Sebelumnya saya mau cerita awal dibuatnya akun finsta milik saya (@bjlpnk), mungkin cerita ini cukup mampu menjawab pertanyaan pertama ini...

Saya buat akun itu sejak 6 April 2016, berarti tahun ini umur bjlpnk hampir empat tahun. FYI, fitur multi akun di Instagram ada sejak November 2015. Tapi tentu saja, saya yang gaptek teknologi tidak tau fungsi sebenarnya fitur ini, jadi pada saat itu saya cukup memiliki satu akun saja.

Sepanjang ingatan saya, tujuan saya membuat akun finsta adalah karena kepo dan ingin mengikuti perkembangan jaman namun saya tidak cukup pede jadi pakai nama samaran. hahaha. Dulu sebelum pindah ke Instagram, saya lebih aktif di twitter dan tumblr.

Oleh karena saya masih awam soal dunia perinstagraman dan tidak punya teman untuk di follow--plus saat itu bagi saya instagram kurang menarik, cuma berisi foto-foto orang--akhirnya akun finsta saya tinggalkan begitu saja.

Tidak lama kemudian mungkin karena lupa username dan pasword-nya, saya buat akun Rinsta (Real Account Instagram) untuk memfollow beberapa teman. Saat itu saya lebih fokus di akun ini, sekadar untuk upload foto pribadi dan bercengkrama dengan teman lama.

Entah kenapa, ditahun berikutnya saya membuka kembali akun Finsta saya--uname dan paswordnya saya temukan di note handphone--dan jadi lebih aktif di akun ini untuk upload quoetes hasil screenshootan dari tumblr, twitter ataupun gugel. Saya masih ingat, waktu itu saya sering sekali upload quotes-quotes dan foto apa saja di akun ini, sehari bisa 3-5 kali. HAHAHA. Edan!

Sejak saat itu akun finsta saya jadi satu-satunya akun yang melekat di Instagram dan jadi sosial media pertama yang setiap hari saya buka. Plus, banyak sekali akun instagram yang postingannya begitu inspiratif dan menarik untuk diikuti. Sehingga saat ini Instagram menjadi pusat informasi instant pertama bagi saya kemudian diikuti twitter, dan tumblr.

Persepsi Orang lain :
Jawaban ini saya dapatkan dari beberapa orang yang ada dihidup saya. 

  • Untuk memfollow akun-akun favorit (Akun seleb, olshop, dsb) tanpa tercampur aduk dengan foto pribadi teman-teman yang berseliweran di timeline
  • Sebagai media dokumentasi foto-foto privat, aestetik/aneh/gak jelas
  • Sebagai media berekspresi dan berkarya tapi sifatnya rahasia
  • Stalker gebetan, pacar, mantan, dll.
 Berdasarkan pengamatan di Instagram :
Kalau yang ini saya lakukan secara tidak sengaja. Biasanya saya menemukan akun-akun finsta saat membaca komentar. 

Saya heran kenapa sekarang ini banyak sekali ditemukan akun-akun bodong atau akun fake di hampir setiap postingan foto yang saya temui. 

Nah, yang jadi masalah disini adalah kalau akun-akun bodong alias fake ini digunakan untuk berkomentar pedas atau tak senonoh dengan dalih bisa bebas berekspresi di akun orang lain. Wah, ingin saya paido saja tapi sungkan. hehe.

Setelah saya amati akun-akun ini, saya kira memang dibuatnya fake akun itu sebagai media bebas berekspresi tapi bebas yang bertanggung jawab, dimana kita bisa posting kapan pun dan apapun yang ada dalam pikiran dan hati kita karena biasanya followers akun finsta adalah orang-orang terdekat atau bahkan diisi strangers saja. 

Ini seperti sisi lain dari diri kita yang tidak bisa atau tidak ingin ditunjukkan ke sembarang orang. Aku kira, semua orang pasti punya sisi lain yang tidak ditunjukkan ke orang lain. Seperti gunung es, yang terlihat hanya bagian permukaan saja.


2. Apakah ada dampak negatif maupun positif dari finsta?

Pertama, pertanyaan ini muncul karena resah pada akun-akun bodong yang digunakan dengan tidak bertanggung jawab alias seenak udel. Kedua, pertanyaan ini muncul karena saya gamang bisa saja secara tidak sadar menggunakan akun instagram fake bisa berpengaruh pada kualitas diri seseorang seperti kepercayaan dan penerimaan pada diri sendiri? Ketiga, piye ki aku tolek jawabanae? pertanyaane abot gawe aku! Mentolo maido diri sendiri ae.

“So, the real Instagram accounts are their fake selves, and the fake accounts are their real selves.”

Note : Quotes diatas diambil dari artikel Pijarpsikologi.com

hm. Sepertinya saya setuju. Media sosial pada dasarnya memang difungsikan bagi penggunanya untuk bebas berekspresi di dunia digital ini. Membuat finsta tidak sertamerta selalu berisi dampak buruk saja. Dengan finsta kita dapat membagikan celotehan personal yang bukan ditujukan untuk publik, istilah lain bisa dibilang buku diary online. HAHAHA

Wajar, sudah alamiah manusia ingin mengekspresikan diri. Sejatinya seseorang membutuhkan wadah untuk menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu tanpa membuat risih orang lain atau pengikutnya, dan inilah yang saya lakukan dengan finsta. 

Dengan finsta saya belajar untuk tidak terpengaruh oleh perfectionism ala media sosial dan mencoba lepas dari kendali society yang mendorong pada kesempurnaan. Karena memang saya tidak sempurna, saya hanyalah manusia biasa yang banyak dosa dan sering salah.

waduh. sok iye.

OK, itu adalah sisi positif dari finsta. Lalu apakah dampak negatifnya?
Coba tanya ke diri sendiri,

  • kenapa kamu perlu membuat second akun di Instagram? 
  • Apakah karena kamu tidak percaya diri dengan dirimu sendiri atau karena kamu terlalu takut penilaian orang ke kamu?
  • Apakah kamu pernah melakukan hate comment, cat calling, catfishing, penyebaran hoaks, hingga penipuan dengan finsta-mu?
Coba jujur! Kalau iya, berarti your fake Instagram account is toxic, cuy! Eh, atau sebenarnya kamu yang toxic karena tidak bisa menerima realita, jadi kamu menumpahkan seluruh amarah ke akun fake instagrammu? Selama tidak mengganggu pengguna lain, aku rasa ok ok saja. Tapi, kamu butuh orang lain untuk mendengarkan keluh kesahmu. DM aku saja, aku siap jadi pembaca dan pendengar yang baik. muehehe dasar bakul keluh kesah!!

Tambahan :
Untuk tambahan referensi bisa baca nytimes.com. Saran dari saya yang kemampuan bahasa asingnya pas-pasan seperti saya, sedia translator soalnya menurut saya bahasanya terlalu berat, kamu gak akan kuat, biar google translate saja. :)

SELAMAT MALAM... 

We are the same, aren't we?

We are staring at the same sky,
We look up at the same stars,
We walk under the same moon,
We live under the same sun.
Sometimes we cry,
Sometimes we smile.
We sleep on the earth,
We breath the same air,
We are all humans,
So, we live and die.

We are the same, aren't we?

Blog Archive